Generalisasi fitur garis ala Douglas-Peuker

Generalisasi secara umum bisa disebut penyederhanaan. Dalam kaitannya dengan data spasial generalisasi bisa diartikan sebagai ’penghapusan’ kedetailan data dengan tujuan agar prosesing data dan penampilan data lebih cepat pada skala yang lebih kecil.

Katakan kita mempunyai peta batas pantai sekala 1:350.000 hasil digitasi namun kita ingin menampilkannya (dicetak kembali) ke sekala 1:1.000.000. Apa yang akan nampak pada hasil cetakannya? Tentunya garis-garis sungai ini akan nampak campur aduk (tidak karuan). Tidak enak di pandang mata.

Beda Skala Peta

Beda Skala Peta

Untuk mengatasinya perlu dilakukan proses generalisasi data, yakni menyederhanakan bentuk lekuk garis pantai (menguranginya). Seperti diketahui garis pantai dalam data GIS berupa garis yang dibentuk dari gabungan titik-titik yang saling berhubungan. Makin meliuk-liuk garis pantai berarti makin banyak titik-titik yang membentuk-nya. Sebuah garis (arc) di susun berdasar node dan vertex (gambar 1)

Lantas bagaimana caranya meng-generalisasi bentuk garis di atas biar kelihatan simpel? Untuk melakukannya algoritma Douglas-Peuker (1973) bisa digunakan..

Generalisasi garis bekerja

Generalisasi garis bekerja

Algoritma ini bekerja garis demi garis berdasarkan nilai toleransi yang telah ditentukan. Algoritma ini mulai bekerja dengan menghubungkan titik awal dengan titik akhir dari sebuah segmen garis (gambar 2; garis merah mengubungkan node A dan B). Garis peghubung ini bisa disebut garis ’trend’.

Setelah itu algoritma menghitung masing-masing jarak tegak lurus dari tiap vertex ke garis trend. Jarak-jarak tadi lalu dibandingkan satu dengan yang lainnya di cari yang paling jauh jaraknya (gambar 2, lihat garis imajiner biru). Jika jarak terbesar ini melebihi dari nilai toleleransi (nilai toleransi ditentukan sebelum algoritma dijalankan) maka vertex yang mempuyai jarak terbesar tadi (vertex C) dijadikan sebagai titik baru (titik antara), penghubung ke titik awal dan akhir garis (A, B). Garis trend baru pun selanjutnya terbentuk (gambar 3, garis A – C, C – B).

Setelah garis trend baru terbentuk algoritma melanjutkan proses serupa untuk mencari vertex-vertex berikutnya yang mempunyai jarak terjauh, untuk kemudian akan dijadikan sebagai titik penghunbung baru sehingga akan terbentuk garis-garis trend baru berikutnya. Proses ini berjalan terus menerus hingga tidak ada satupun vertex yang jarak tegak lurusnya ke garis trend melebihi nilai toleransi. Vertex-vertex antara yang jaraknya dibawah nilai toleransi dihapus. Yang tersisa akhirnya, garis trend-trend tadi yang merupakan garis hasil penyerderhanaan (gambar 5).

Selain algoritma ini ada algoritma lain yakni algoritma ‘Bend-simplify’. Untuk mencoba-nya silakan gunakan ArcGIS > ArcTool Box > Data Management> ’Simplify Line’.

(Sumber: Introduction to GIS 4th edition, pengarang: Khang-Tsung Chang, McGrawHill – 2008)

About laju gandharum

Lahir besar di Jakarta - Depok.

Posted on June 12, 2009, in GIS & RS and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Kata “penyerdehanaan” mohon di rubah menjadi ejaan yang telah disempurnakan di dalam blog nt, menjadi “penyederhanaan”.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: