Feeds:
Posts
Comments
Cover buku

Cover buku

[ Rekomendasi Buku ]

Mungkin  diantara kita ada berminat mempelajari Photogrammetry.
Namun ketika mencoba mengenalnya apa yang di sajikan dari text book Photogrammetry isi-nya serba rumus matematis yang panjang dan berlarut-larut. Tentu ini akan membuat ’shock’ bagi seseorang yang tidak terbiasa dengan matematika.

Dan komentar pun bermuculan..

1.  “Aduh..matematika sudah saya tinggalkan sejak dulu…sekarang banyak yang lupa”
2.  “Wah saya bukan berlatar belakang engineering…gak pernah dapat yang seperti ini…”
3.  “Pekerjaan saya saat ini tidak dekat dengan matematika..”

4.  dsb..dsb..

Memang benar untuk mendalami Photogrammetry diperlukan pengetahuan dasar matematika yang memadai. Lingkup matematika tersebut mencakup :

  • Sistem koordinat
  • Aljabar vektor
  • Alajabar matriks
  • Transformasi Linear
  • Tranformasi Non-linear
  • Linearisasi dari Fungsi non linear
  • Proyeksi peta..

Emmm.. cukup banyak bukan,  singkat cerita, ingin mempelajari Photogrametry?? matematikanya sudah OK belum?

Kalo sudah begini,  sang-peminat yang tidak mempunyai keteguhan hati atau tidak ‘terpaksa’ mempelajarinya..perlahan tapi pasti..akan mundur…wesssss menghilang. Bye..bye Photogrammetry..

Masalah ini rupa-nya di cermati oleh Wilfried Linder seorang profesor di Institut Geografi, Universitat Dusseldorf  Jerman, melalui buku yang dikarangnya.  Buku ini memiliki judul “Digital Photogrammetry: A Practical Course” diterbitkannya pertamakalinya pada tahun 2003. Hingga tahun 2009 buku ini telah memiliki edisi ke-3.

Buku ini ditujukan kepada siapa saja yang tidak ‘berpendidikan’ di photogrammetry tetapi berpotensi sebagai pengguna produk-produk Photogrammetry dalam pekerjaanya seperti misalnya Geographers, Geologists, Cartographers, and Forest Engineers.

Di bukunya tak akan ditemukan banyak rumus-rumus matematis hanya beberapa saja ini pun yang cukup esensial di Photogrammetry dan dijelaskan cukup gamblang.

Konsisten dengan judul bukunya, buku ini mengajak pembaca tuk memahami photogrammetry melalui praktek. Materi praktek dan software disediakan dalam CD-ROM yang menyertai buku tersebut.

Berminat mencoba mempelajari??

Silakan download ebook-nya di sini (atau di Gigapedia)

Companion CD-nya bekerja untuk buku edisi ke-2 bisa didownload di :

* Karena CD-nya ukuran besar jadi displit. Untuk ekstrak gunakan Winrar or sejenisnya. CD diburn dalam bentuk image file (*.ISO)

Untuk mengenal image file (ISO dan sejenisnya) diperlukan virtual CD/DVD drive. Virtual drive ini bisa dibuat dengan bantuan software semisal ‘Daemon Tools’ (freeware).  Freeware ini dapat didownload di http://www.daemon-tools.cc/eng/home

Mau mencoba lebih jauh tentang Photogrammetry? monggo simak beberapa referensi lain di bawah ini.

  • Wolf, P.R., and B.A. Dewitt (2008). Elements of Photogrammetry with Application in GIS, 3rd Ed., McGraw-Hill.
  • Mikhail, A.M., J.S. Bethel, and J.C. McGlone (2001). Introduction to modern photogrammetry. John Wiley & Sons, Inc.
  • Ghilani, C.D., and P.R. Wolf (2006), Adjustment Computations, Spatial Data Analysis, Fourth Edition, John Wiley & Sons, Inc.

Selamat mencoba..Semoga bermanfaat..

Minggu ini adalah minggu pertama awal perkuliahan kampus-kampus di Taiwan, termasuk di NCU (National Central University) di mana saya studi.

Ada yang janggal ketika saya mulai beraktifitas di awal semester ini. Setiap pintu gedung-gedung perkuliahan, kantor, tempat olah raga, dan juga asrama ‘dijaga ketat’ oleh petugas. Mereka umumnya berjumlah 2 orang, duduk di belakang satu meja panjang dilengkapi rompi, masker dan sepucuk alat layaknya senjata api laras pendek yang siap menyergap orang-orang yang hendak memasuki gedung.

Ada apa gerangan pikir saya. Benar, mereka telah memasang pengumuman di ruang terbuka di sudut-sudut kampus, namun karena dalam tulisan Mandarin sayapun tak peduli..tak faham. Masih buta huruf dan bisu di sini.

Tidak terlalu pikir panjang karena mesti ikut jam kuliah di pagi itu sayapun bergegas  coba memasuki gedung menerobos melewati barikade petugas-petugas ini. Baru selangkah maju mendekati, petugas pun tersiaga berdiri memanggil.

”STOP…STOP..berhenti sebentar mas, kami periksa dulu !!”

Alat yang sepintas mirip senjata api yang tengah digengam petugas kini moncong-nya di dekatkan ke jidat saya. Hanya sebentar selesai, 1 – 2 detik saja, setelah itu setiker kecil berwarna kuning seukuran koin pun ditempelkan di bahu saya.

”Sudah selesai, silahkan ..masuk ruang”.

Karena ingin tahu saya pun bertanya ”Apa ini?”..

”Ini bagian dari kegiatan mencegah penularan Flu Babi dan alat ini adalah pengukur suhu, jika suhu badan anda dari hasil pengukuran tercatat lebih dari 38 derajat, anda tidak diperkenankan masuk gedung, anda akan langsung dikirim ke Pusat Kesehatan Kampus tuk diperiksa lebih lanjut”,  jelas petugas.

”Pastikan stiker ini tak lepas dari baju anda selama satu hari ini, kalau terlepas atau hilang anda akan diperiksa lagi saat memasuki gedung, seperti tadi. Setiap hari akan ada pemeriksaan, besok kita akan menggunakan warna lain stiker  dan seterusnya”, tambah petugas tersebut.

”Oya, suhu badan anda normal, hasil pengukuran tadi tercatat 36.5 derajat”.

Petugas-petugas ini selain memeriksa ‘pasien’ juga menyediakan masker gratis bagi yang memerlukannya.

flubabi

Di pintu masuk perpustakaan tidak ada petugas yang menjaga. Namun tetap ada alat pengukur suhu di sana. Alat ini bekerja secara otomatis. Calon pengunjung cukup berdiri tegak menengadahkan dahi ke arah sensor suhu yang dipasang seperti shower di mana sebelahnya terpampang monitor. Bediri beberapa saaat di depannya,  derajat suhu tubuhpun akan ditampilkan di layar monitor tersebut. Kalau normal, lampu hijau akan menyala berbarengan suara alarm. Pertanda YA, monggo silakan masuk..

Selain hal di atas ditiap-tiap gedung juga dipasang alat otomatis untuk cuci tangan (disenfektan). Sebelum masuk gedung sangat dianjurkan untuk ‘menjulurkan’ tangan dan membasuhnya dengan cairan disinfektan menggunakan alat ini. Mak..nyosss…seger….

Berfikir sejenak lebih dalam dan masih menjadi tanya, seheboh  apakah penyebaran Flu Babi di Taiwan hingga gerakan menangkap Flu Babi nampak serius dilakukan.

Sepulang kuliah saya pun masih penasaran mencari jawaban, duduk manis di depan laptop tercinta, pertanyaan pun saya lontarkan ke paman Google.

Hasil pencarian menceritakan bahwa situasi terakhir hingga 15 Sept 2009 terkait flu babi di Taiwan 15 orang telah meninggal, 252 orang di rawat di rumah sakit dan 162 orang mengalami pemulihan. Central Epidemic Command Center (CECC) selaku fihak yg berkepentingan dalam pencegahan penyebaran flu babi mengeluarkan kebijakan yang memerintahkan seluruh otoritas sekolah termasuk kampus untuk mematuhi standar management prosedur kesehatan sekolah/kampus dengan cara melakukan cek suhu badan setiap hari, penggunaan masker, disinfektansi dengan membasuh tangan dengan ethyl alcohol, serta selalu berkomnukasi dengan rumah sakit terdekat untuk hal-hal yang sifatnya urjen.

Semoga situasi ini cepat berlalu!! Bosen juga jidat kok dibuat mainan…

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Menagkap Flu Babi (H1N1) di Taiwan

Minggu ini adalah minggu pertama awal perkuliahan di seluruh kampus di Taiwan, termasuk di NCU (National Central University) di mana saya sedang studi.

Ada yang janggal ketika saya mulai beraktifitas di awal semester ini. Setiap pintu gedung-gedung perkuliahan, kantor, tempat olah raga, dan juga asrama ‘dijaga ketat’ oleh petugas. Mereka umumnya berjumlah 2 orang, mereka duduk dibelakang satu meja panjang di lengkapi rompi, masker dan sepucuk alat layaknya senjata api laras pendek yang siap menyergap orang-orang yang hendak memasuki gedung.

Ada apa gerangan pikir saya. Benar, mereka telah memasang pengumuman di meja mereka dan di ruang terbuka sudut-sudut kampus, namun sayang semuanya dalam tulisan Mandarin, tak faham saya. Masih buta huruf dan bisu di sini.

Tidak terlalu pikir panjang karena mesti ikut jam kuliah di pagi hari sayapun bergegas buru-buru coba memasuki gedung menerobos melewati barikade petugas-petugas ini. Baru selangkah maju mendekati, petugas ini tersiaga bergegas berdiri memanggil saya.

”STOP…STOP..berhenti sebentar, kami periksa dulu anda !!”

Alat yang sepintas mirip senjata api yang tergolek di meja kini tengah digengam petugas dan moncong-nya di arahkan ke jidat saya. Hanya sebentar, 1 – 2 detik saja, setelah itu setiker kecil berwarna seukuran koin pun ditempelkan di baju bagian dada saya.

”Sudah selesai, silahkan ..masuk ruang”.

Saya pun kemudian bertanya ”Apa ini?”..

”Ini bagian dari kegiatan mencegah penularan Flu Babi dan alat ini adalah pengukur suhu, jika suhu badan anda dari hasil pengukuran tercatat lebih dari 38 derajat, anda tidak diperkenankan masuk gedung, anda akan langsung dikirim ke Pusat Kesehatan Kampus tuk diperiksa lebih lanjut”,  jelas petugas.

”Pastikan stiker ini tak lepas dari baju anda untuk satu hari ini, kalau terlepas atau hilang anda akan diperiksa lagi jika pergi memasuki gedung, seperti tadi. Setiap hari akan ada pemeriksaan, besok kita akan menggunakan warna stiker lain dan seterusnya”, tambah petugas tersebut.

”Oya, suhu badan anda normal, hasil pengukuran tadi tercatat 36.5 derajat”.

Berfikir sejenak lebih dalam dan menjadi tanya, seheboh  apakah penyebaran Flu Babi di Taiwan hingga gerakan menangkap Flu Babi nampak serius dilakukan.

Sepulang kuliah saya pun masih penasaran mencari jawaban, duduk manis di depan laptop tercinta, pertanyaan pun saya lontarkan ke Paman Google.

Hasil pencarian menceritakan bahwa situasi terakhir hingga 15 Sept 2009 terkait flu babi di Taiwan 15 orang telah meninggal, 252 orang di rawat di rumah sakit dan 162 orang mengalami pemulihan. Central Epidemic Command Center (CECC) selaku fihak yg berkepentingan dalam pencegahan penyebaran flu babi mengeluarkan kebijakan yang memerintahkan seluruh otoritas sekolah termasuk kampus untuk mematuhi standar management prosedur kesehatan sekolah/kampus dengan cara melakukan cek suhu badan setiap hari, penggunaan masker, disinfektansi dengan membasuh tangan dengan ethyl alcohol, serta selalu berkomnukasi dengan rumah sakit terdekat untuk hal-hal yang sifatnya urjen.

Semoga situasi ini cepat berlalu!! Jidat kok buat mainan…

Udara

Udara.. sudah bersama kita sejak kita lahir.
Kita tidak akan bisa melepaskan kehadirannya begitu saja.

Di muka bumi kita bisa bertahan hidup walau kita pergi jauh ..sejauh mungkin ke segala arah horisontalnya.

Namun ke arah vertikal kita tak kan mampu tuk bertahan lebih dari 8 kilometer saja dari muka bumi.

Kita mampu hidup beberapa minggu tanpa makan,
Kita bisa hidup beberapa hari tanpa minum,

Namun kita tak kan pernah bisa hidup tanpa udara walau dalam hitungan menit!!

Layaknya ikan yang tergantung pada air,
Kita tergantung pada hamparan laut maha luas di sebut udara..

Kemanapun kita melangkah..udara menyertai.

(Di cuplik dari C. Donald Ahrens in ‘Meteorology Today’, Thomson 2003)

Generalisasi secara umum bisa disebut penyederhanaan. Dalam kaitannya dengan data spasial generalisasi bisa diartikan sebagai ’penghapusan’ kedetailan data dengan tujuan agar prosesing data dan penampilan data lebih cepat pada skala yang lebih kecil.

Katakan kita mempunyai peta batas pantai sekala 1:350.000 hasil digitasi namun kita ingin menampilkannya (dicetak kembali) ke sekala 1:1.000.000. Apa yang akan nampak pada hasil cetakannya? Tentunya garis-garis sungai ini akan nampak campur aduk (tidak karuan). Tidak enak di pandang mata.

Beda Skala Peta

Beda Skala Peta

Untuk mengatasinya perlu dilakukan proses generalisasi data, yakni menyederhanakan bentuk lekuk garis pantai (menguranginya). Seperti diketahui garis pantai dalam data GIS berupa garis yang dibentuk dari gabungan titik-titik yang saling berhubungan. Makin meliuk-liuk garis pantai berarti makin banyak titik-titik yang membentuk-nya. Sebuah garis (arc) di susun berdasar node dan vertex (gambar 1)

Lantas bagaimana caranya meng-generalisasi bentuk garis di atas biar kelihatan simpel? Untuk melakukannya algoritma Douglas-Peuker (1973) bisa digunakan..

Generalisasi garis bekerja

Generalisasi garis bekerja

Algoritma ini bekerja garis demi garis berdasarkan nilai toleransi yang telah ditentukan. Algoritma ini mulai bekerja dengan menghubungkan titik awal dengan titik akhir dari sebuah segmen garis (gambar 2; garis merah mengubungkan node A dan B). Garis peghubung ini bisa disebut garis ’trend’.

Setelah itu algoritma menghitung masing-masing jarak tegak lurus dari tiap vertex ke garis trend. Jarak-jarak tadi lalu dibandingkan satu dengan yang lainnya di cari yang paling jauh jaraknya (gambar 2, lihat garis imajiner biru). Jika jarak terbesar ini melebihi dari nilai toleleransi (nilai toleransi ditentukan sebelum algoritma dijalankan) maka vertex yang mempuyai jarak terbesar tadi (vertex C) dijadikan sebagai titik baru (titik antara), penghubung ke titik awal dan akhir garis (A, B). Garis trend baru pun selanjutnya terbentuk (gambar 3, garis A – C, C – B).

Setelah garis trend baru terbentuk algoritma melanjutkan proses serupa untuk mencari vertex-vertex berikutnya yang mempunyai jarak terjauh, untuk kemudian akan dijadikan sebagai titik penghunbung baru sehingga akan terbentuk garis-garis trend baru berikutnya. Proses ini berjalan terus menerus hingga tidak ada satupun vertex yang jarak tegak lurusnya ke garis trend melebihi nilai toleransi. Vertex-vertex antara yang jaraknya dibawah nilai toleransi dihapus. Yang tersisa akhirnya, garis trend-trend tadi yang merupakan garis hasil penyerderhanaan (gambar 5).

Selain algoritma ini ada algoritma lain yakni algoritma ‘Bend-simplify’. Untuk mencoba-nya silakan gunakan ArcGIS > ArcTool Box > Data Management> ’Simplify Line’.

(Sumber: Introduction to GIS 4th edition, pengarang: Khang-Tsung Chang, McGrawHill – 2008)

Haus akan informasi untuk kita yang hidup dijaman serba techno saat ini pastinya selalu keturutan. Gak perlu mahal-mahal cukup punya koneksi internet. Dan Gigapedia (http://gigapedia.com) pun bisa dijadikan andalan tuk memenuhi kebutuhan itu.

Gigapedia merupakan gudang informasi tuk mendapatkan berbagai e-book. Melalui Gigapedia kita bisa menemukan link-link e-book untuk bisa didownload GRATIS!!

Bagaimana legalitas-nya jika kita Download dari Gigapedia?. Sekali lagi, Gigapedia bukan ’tempat’ penyimpan e-book dimana kita bisa mendownload darinya, tetapi Gigapedia menyimpan link-link informasi di mana e-book2 itu di simpan. Link-link ini umumnya merujuk ke file hoster macam RapidShare, iFile.it, FileFactory. Download merupakan tanggung jawab masing-masing pen-download.

Format e-book yang umum dijumpai dari link-link Gigapedia adalah: PDF, DJVU (dejavu) dan Html.

Bagaimana caranya bisa download e-book2 itu?

  1. Lakukan registrasi alias buat account di Gigapedia (free).
  2. Pastikan sebelumnya anda memiliki akun email di google (@gmail.com or @googlemail.com)
  3. Login (isi user name dan password, dan CAPTCHA – kata sandi acak). Yang buat ribet ini mengisi ‘captcha’ karena kadang kata-kata yang tergambar susah dibaca. Mengatasinya ganti kata yang mudah dengan menekan tombol ‘get new chalenge’

    captcha

    captcha

  4. Lakukan pencarian melalui combo-box, pilih gigapedia, isi kata kunci lalu tekan tombol ‘search’

    search

    search

  5. Dari dari daftar hasil pencarian, klik salah satu judul buku yang dikehendaki.
  6. Setelah itu klik tab ‘Links’.

    links

    links

  7. Download e-book dari dari link-link yang tersedia (RapidShare, iFile.it, FileFactory dll), saran:
    • Pilih yang dari iFile.it, kenapa? Bisa langsung dan cepat didownload tidak bertele-tele dibanding yang lain. Untuk RapidShare jika tidak mempunyai akun ‘Premium’ (berbayar) alias pake akun yang free downloadnya dibatasi waktu. Petama harus menunggu sekian detik untuk siap download, setelah berhasil download untuk download berikutnya wajib tunggu waktu jeda 15 menit. Jadi gak bisa download terus-terusan dalam waktu cepat.

      link to download

      link to download

    • Selain PDF, bisa juga pilih file format DJVU. Format ini lebih compact (ukurannya lebih kecil) dibanding PDF. Untuk membacanya bisa menggunakan DJVU reader semacam ‘STDU Viewer’. STDU Viewer gratis bisa didownload dari http://www.stdutility.com/
    • Pilih yang tidak ber-password (biar mudah saja).
    • Bila belum punya gambaran ebook apa yang akan dicari, baiknya coba dulu cari-cari infonya ke www.amazon.com kategori buku (books). Dari amazon.com akan di dapat keterangan umum tentang buku spt: ringkasan, daftar isi, atau pendapat tentang buku tersebut dari para pembacanya (reviewer).
  8. Selamat Mencoba!!….eeeit sebentar-sebentar, kalau bosan ke Gigapedia bisa coba alternatif  lain  EBOOKEE, ini alamatnya http://www.ebookee.com/

Older Posts »