Feeds:
Posts
Comments

Disadari atau tidak belakangan ini kita sudah terbiasa dengan data geospasial dan teknologi yang mengusungnya. Hal ini bisa kita jumpai produk akhirnya di layar kaca, internet ataupun media massa lainnya seperti koran dan majalah. Sebagai contoh kejadian tsunami Aceh di akhir tahun 2004 lalu. Jelang beberapa saat setelah kejadian, berita di TV dengan jelas menampilkan wilayah-wilayah kota Banda Aceh dan wilayah bagian pantai Barat provinsi NAD yang porak poranda diterjang tsunami melalui citra satelit Ikonos.

Citra Satelit SPOT Sebelum dan sesudah Tsunami 2004 (LAPAN)

Di tahun 2004 dan 2009, data geospasial juga dimanfaatkan untuk kepentingan pemilu  oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum). Hasil pemilu presiden ditampilkan online near-realtime meggunakan peta berbasis web melalui situs resminya. Teknologi ini dikenal dengan sebutan webmapping atau webgis.

Pemanfaatan data geospasial tidak berhenti hanya untuk contoh di atas. Hampir semua bidang bisa dimudahkan dengan memanfaatkan data dan teknologi ini termasuk juga untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah. Perencanaan tata ruang, mencari ketersediaan lahan dan potensi sumberdaya alam serta arahan pengelolaannya akan lebih cepat, tepat dan akurat jika memanfaatkan data dan teknologi ini.

Tren saat ini dan ke depan, geospasial merupakan solusi. Ketersediaan data geospasial dari hari kehari akan meningkat pesat. Ini pertanda baik, semakin banyak data geospasial dimiliki berarti semakin banyak pula hal yang bisa dekerjakan. Jadi seyogyanya barangsiapa yang menguasai hal ini dia-lah yang akan mempunyai kesempatan untuk menjadi yang terdepan.

Selanjutnya sebuah pertanyaanpun muncul, sudah puaskah dengan dengan memiliki banyak data? Tentunya BELUM. Ada satu hal penting yang perlu dilakukan yakni MENGELOLA DATA tersebut. Data geospasial memiliki keunikan dibanding data lain, dia memiliki informasi referensi geografis, waktu, format data, hubungan antar obyek serta informasi lainnya seperti resolusi spasial, skala maupun sumber data. Informasi yang ada pada data ini harus bisa dikelola dengan cermat, jika tidak akan menjadi sia-sia bahkan berakibat fatal karena bisa-bisa kan memanfaatkan data yang salah. Misalkan saja untuk kepentingan analisis model arahan lahan suatu wilayah diperlukan data seri Penggunaan Lahan sepuluh tahun terakhir. Sebagian data-data tersebut ditemukan sudah dalam formati digital namun informasi tahun, skala dan sumbernya tidak jelas. Tentunya hal ini menimbulkan keraguan untuk menggunakannya.

Data geospasial bisa dikelola dengan baik melalui Sistem Informasi dan Manajemen Data Geospasial. Ada beberapa sistem di dunia saat ini yang bisa digunakan, namun pada umumnya sistem ini bersifat komersial. Sistem lain yang bisa menjadi pilihan adalah Geonetwork. Geonetwork merupakan teknologi OpenSource GIS berbasis web yang di bangun dan dipublikasi oleh The Environment and Natural Resources Service (SDRN) – The Food and Agriculture Organization of United Nation (FAO PBB).

Portal GeoNetwork milik Pemda Prov. NAD (2007)

Hingga saat ini Geonetwork telah digunakan di berbagai institusi diantaranya adalah FAO-GeoNetwork (http://www.fao.org/geonetwork), VAM-SIE-GeoNetwork di  World Food Program  (http://vam.wfp.org/geonetwork), WHO, UNEP, CGIAR dan the Global Change Information and Research Centre (GCIRC) China. Di Indonesia institusi yang telah mengimlementasikan Geonetwork adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (2006), saat itu Geonetwork masih digunakan dalam jaringan internal pemerintah daerah provinsi dan masih terus dikembangkan, pada saatnya nanti direncanakan akan di publikasi via internet.

Mengapa Geonetwork?

Geonetwork Opensource adalah sebuah perangkat standarisasi dan desentralisasi manajemen informasi spasial, didesain untuk mampu mengakses data geospasial, produk kartografi dan metadatanya yang bersumber dari berbagai institusi, meningkatkan pertukaran dan sharing informasi spasial antar organisasi dan siapa saja yang berkepentingan terhadapnya, berbasis web. Pendekatan manajemen informasi spasial ini dimaksudkan untuk memfasilitasi komunitas pengguna informasi spasial guna memperoleh kemudahan dan ketepatan waktu dalam mengakses data spasial maupun peta-peta tematik guna mendukung pengembilan keputusan dan keperluan lainnya.

Tampilan standart portal GeoNetwork

Geonetwork Opensource mampu menampung aksesbilitas keragaman data yang begitu luas dan besar berikut informasi yang berasoisasi dengannya, pada skala yang berbeda maupun dari berbagai sumber (multi disiplin), mengorganisasikan dan mendokumentasikannya dalam sebuah standar yang konsisten.

Dengan Geonetwork diharapkan terjadi peningkatkan penukaran dan sharing data antar organisasi guna menghindari duplikasi data, meningkatkan usaha kerjasama dan koordinasi dalam mengkoleksi data dan membuatnya tersedia untuk kebaikan bagi semua fihak, menghemat dana, dan pada saat yang sama sebenarnya menjaga/memelihara data serta informasi kepemilikannya.

Geonetwork dibangun untuk menghubungkan komunitas informasi spasial dan data yang dimilikinya menggunakan arsitektur teknologi modern pada saat yang sama dan hemat biaya, berbasis pada prisip Free and Open Source Software (FOSS) dan International and Open Standards for services and protocols. Arsitektur Geonetwork sangat cocok dengan Geospatial Portal Reference Architecture yang merupakan pedoman Open Geospatial Consortium (OGC) dalam mengimplementasikan sebuah portal geospasial berstandarisasi.

Implementasi sistem

Spesifikasi teknis

Geonetwork mengimplementasikan komponen Portal dan database Catalog dari Infrastruktur Data Spasial (SDI) yang telah di definisikan dalam Referensi Arsitektur OGC. Hal tersebut artinya bahwa Geonetwork menyediakan kemampuan untuk mengelola dan mepublikasi metadata atas data spasial dan layanan terkaitnya.

1. Perangkat Lunak

Geonetwork opensource bisa diunduh gratis di https://sourceforge.net/projects/geonetwork. Geonetwork pada utamanya menyediakan  file intalasi versi sisi server, namun dari file tersebut itu juga bisa digunakan untuk intalasi Geonetwork versi stand-alone (komputer tunggal) tentunya dengan memperhatikan beberapa ketentuan saat instlasi dilakukan.

Untuk versi server instalasi akan sedikit lebih rumit karena untuk bisa menjalan Geonetwork perlu perangkat lunak penunjang lain yang harus sudah terinstal sebelumnya dan dipastikan jalan (untungnya perangkat lunak penunjang ini juga opensource). Untuk versi stand-alone beberapa hal ini bisa diabaikan (geonetwork akan menggantikan bagian proses instalasi untuk server-side dengan versi stand-alone).

Peryaratan mutlak untuk instalasi sisi server adalah :

  • Operating System berbasis Windows, Linux maupun Mac OS X.
  • Browser internet yang normal digunakan seperti Firefox v2+ (All), Internet Explorer v6+ (Windows), Safari v3+ (Mac OS X Leopard.
  • Java Runtime Environment (JRE 1.5.0)
  • Apache Tomcat (sebagai web server)
  • JDBC (Java database connectivity) compliant memenuhi DBMS (Database Management System; MySQL, Postgresql, Oracle)
  • File instalasi Geonetwork (update terakhir hingga Oktober 2009 adalah versi 2.4.2 )

Untuk versi stand alone, syarat Apache Tomcat bisa diabaikan diganti oleh Jetty web server dan DBMS MySQL diganti oleh McKoi.

2. Perangkat Keras

Jika geonetwork akan di-instal di sisi server, maka perangkat kerasnya pun juga harus dipersiapkan untuk mampu menunjang itu. Perangkat keras yang dimaksud adalah :

  • Komputer server dengan spesifikasi :
    • Kebutuhan RAM (Random Access Memory) minimal 1 GB
    • Prosesor Komputer 2 GB.
    • Kapasitas Hardisk minimal 200 MB, disarankan untuk lebih, minimal 1 GB mengingat upload-data akan disimpan di Server.
  • LAN – (Local Areal Network)
  • Koneksi internet (menjadikan komputer server sebagai web server – mendaftarkannya ke jaringan internet)
  • Komputer Client

Pengisian data dan  metadata (Pengoperasian Sistem)

Halaman administrasi GeoNetwork

Geonetwork melalui user-access administrator mempunyai kekuasaan penuh dalam mengelola isi web termasuk di dalamnya dapat manambahkan data dan metadata, mengedit dan menghapusnya. Administrator juga dapat membuat user baru yang diperkenankan untuk mengisi data dan metadata. Jadi pengisian data dan meta data bisa diisi secara simultan oleh beberapa user dari komputer client ( versi server).

Jenis data yang umum bisa ditambahkan ke sistem ini adalah.

  • Pengisian data raster berikut metadatanya
  • Pengisian data vektor berikut metadatanya
  • Pengisian data dan metadata / dokumen lain yang menunjang (pdf, gambar, movie, document, dll).

Form isian data (upload data) dan meta data yang disediakan oleh Geonetwork mempunyai standar yang umum digunakan. Adapun beberapa standar tersebut adalah:

  • International Standard ISO 19115:2003  dengan mengimplemantasikan skema ISO 19139:2007,
  • Dublin Core dan
  • FGDC (Federal Geographic Data Committee)

Hasil pengisian data kemudian bisa kita lacak menggunakan fasilitas ’search maupun advance search’, hasilnya pun segera bisa ditampikan baik metadata maupun sekaligus datanya.

[Disalin dr majalah GeoSpasial - Volume 7/Edisi 1/April 2009, ISSN No. 1558-3725]
Cover buku

Cover buku

[ Rekomendasi Buku ]

“Photogrammetry can be defined as the “science of measuring in photos”, and is traditional a part of geodesy, belonging to the field of remote sensing”

Mungkin  diantara kita ada berminat mempelajari Photogrammetry.
Namun ketika mencoba mengenalnya apa yang di sajikan dari text book Photogrammetry isi-nya serba rumus matematis yang panjang dan berlarut-larut. Tentu ini akan membuat ’shock’ bagi seseorang yang tidak terbiasa dengan matematika.

Dan komentar pun bermuculan..

1.  “Aduh..matematika sudah saya tinggalkan sejak dulu…sekarang banyak yang lupa”
2.  “Wah saya bukan berlatar belakang engineering…gak pernah dapat yang seperti ini…”
3.  “Pekerjaan saya saat ini tidak dekat dengan itung-itungan detail..”

4.  dsb..dsb..

Memang benar untuk mendalami Photogrammetry diperlukan pengetahuan dasar matematika yang memadai. Lingkup matematika itu mencakup :

  • Sistem koordinat
  • Aljabar vektor
  • Alajabar matriks
  • Transformasi Linear
  • Tranformasi Non-linear
  • Linearisasi dari Fungsi non linear
  • Proyeksi peta..

Emmm.. cukup banyak bukan,  singkat cerita, ingin mempelajari Photogrametry?? matematikanya sudah OK belum?

Kalo sudah begini,  sang-peminat yang tidak mempunyai keteguhan hati atau tidak ‘terpaksa’ mempelajarinya..perlahan tapi pasti..akan mundur…wesssss menghilang. Bye..bye Photogrammetry..

Masalah ini rupa-nya di cermati oleh Wilfried Linder seorang profesor di Institut Geografi, Universitat Dusseldorf  Jerman, melalui buku yang dikarangnya.  Judul bukunya “Digital Photogrammetry: A Practical Course“, diterbitkannya pertamakali pada tahun 2003.  Tahun 2009 edisi ke-3 buku ini telah diterbitkan.

Buku ini ditujukan kepada siapa saja yang tidak ‘berpendidikan’ di photogrammetry tetapi berpotensi sebagai pengguna produk-produk Photogrammetry dalam pekerjaanya seperti misalnya Geographers, Geologists, Cartographers, and Forest Engineers.

Di bukunya tak akan ditemukan banyak rumus-rumus matematis hanya beberapa saja ini pun yang cukup esensial di Photogrammetry dan dijelaskan cukup gamblang.

Konsisten dengan judul bukunya, buku ini mengajak pembaca tuk memahami photogrammetry melalui praktek. Materi praktek dan software disediakan dalam CD-ROM yang menyertai buku tersebut.

Berminat mencoba mempelajari??

Silakan download ebook-nya di sini (atau di Gigapedia)

Companion CD-nya bekerja untuk buku edisi ke-2 bisa didownload di :

* Karena CD-nya ukuran besar jadi displit. Untuk ekstrak gunakan Winrar or sejenisnya. CD diburn dalam bentuk image file (*.ISO)

Untuk mengenal image file (ISO dan sejenisnya) diperlukan virtual CD/DVD drive. Virtual drive ini bisa dibuat dengan bantuan software semisal ‘Daemon Tools’ (freeware).  Freeware ini dapat didownload di http://www.daemon-tools.cc/eng/home

Mau mencoba lebih jauh tentang Photogrammetry? monggo simak beberapa referensi lain di bawah ini.

  • Wolf, P.R., and B.A. Dewitt (2008). Elements of Photogrammetry with Application in GIS, 3rd Ed., McGraw-Hill.
  • Mikhail, A.M., J.S. Bethel, and J.C. McGlone (2001). Introduction to modern photogrammetry. John Wiley & Sons, Inc.
  • Ghilani, C.D., and P.R. Wolf (2006), Adjustment Computations, Spatial Data Analysis, Fourth Edition, John Wiley & Sons, Inc.

Selamat mencoba..Semoga bermanfaat..

Minggu ini adalah minggu pertama awal perkuliahan kampus-kampus di Taiwan, termasuk di NCU (National Central University) di mana saya studi.

Ada yang janggal ketika saya mulai beraktifitas di awal semester ini. Setiap pintu gedung-gedung perkuliahan, kantor, tempat olah raga, dan juga asrama ‘dijaga ketat’ oleh petugas. Mereka umumnya berjumlah 2 orang, duduk di belakang satu meja panjang dilengkapi rompi, masker dan sepucuk alat layaknya senjata api laras pendek yang siap menyergap orang-orang yang hendak memasuki gedung.

***************

“Satu hal yang menarik bisa diperhatikan dari orang Taiwan.  Di tempat-tempat umum sering sekali nampak orang menggunakan masker.  Selidik punya selidik,  pengguna masker ini bukan saja orang-orang yang takut tertular penyakit atau orang yang sensitif terhadap debu TAPI justru digunakan oleh orang yang SEDANG SAKIT (flu).  Penggunaan masker mencegah penularan flu dari dirinya pada orang lain”

***************

Ada apa gerangan pikir saya. Benar, mereka telah memasang pengumuman di ruang terbuka di sudut-sudut kampus, namun karena dalam tulisan Mandarin sayapun tak peduli..tak faham. Masih buta huruf dan bisu di sini.

Tidak terlalu pikir panjang karena mesti ikut jam kuliah di pagi itu sayapun bergegas  coba memasuki gedung menerobos melewati barikade petugas-petugas ini. Baru selangkah maju mendekati, petugas pun tersiaga berdiri memanggil.

”STOP…STOP..berhenti sebentar mas, kami periksa dulu !!”

Alat yang sepintas mirip senjata api yang tengah digengam petugas kini moncong-nya di dekatkan ke jidat saya. Hanya sebentar selesai, 1 – 2 detik saja, setelah itu setiker kecil berwarna kuning seukuran koin pun ditempelkan di bahu saya.

”Sudah selesai, silahkan ..masuk ruang”.

Karena ingin tahu saya pun bertanya ”Apa ini?”..

”Ini bagian dari kegiatan mencegah penularan Flu Babi dan alat ini adalah pengukur suhu, jika suhu badan anda dari hasil pengukuran tercatat lebih dari 38 derajat, anda tidak diperkenankan masuk gedung, anda akan langsung dikirim ke Pusat Kesehatan Kampus tuk diperiksa lebih lanjut”,  jelas petugas.

”Pastikan stiker ini tak lepas dari baju anda selama satu hari ini, kalau terlepas atau hilang anda akan diperiksa lagi saat memasuki gedung, seperti tadi. Setiap hari akan ada pemeriksaan, besok kita akan menggunakan warna lain stiker  dan seterusnya”, tambah petugas tersebut.

”Oya, suhu badan anda normal, hasil pengukuran tadi tercatat 36.5 derajat”.

Petugas-petugas ini selain memeriksa ‘pasien’ juga menyediakan masker gratis bagi yang memerlukannya.

flubabi

Di pintu masuk perpustakaan tidak ada petugas yang menjaga. Namun tetap ada alat pengukur suhu di sana. Alat ini bekerja secara otomatis. Calon pengunjung cukup berdiri tegak menengadahkan dahi ke arah sensor suhu yang dipasang seperti shower di mana sebelahnya terpampang monitor. Bediri beberapa saaat di depannya,  derajat suhu tubuhpun akan ditampilkan di layar monitor tersebut. Kalau normal, lampu hijau akan menyala berbarengan suara alarm. Pertanda YA, monggo silakan masuk..

Selain hal di atas ditiap-tiap gedung juga dipasang alat otomatis untuk cuci tangan (disenfektan). Sebelum masuk gedung sangat dianjurkan untuk ‘menjulurkan’ tangan dan membasuhnya dengan cairan disinfektan menggunakan alat ini. Mak..nyosss…seger….

Berfikir sejenak lebih dalam dan masih menjadi tanya, seheboh  apakah penyebaran Flu Babi di Taiwan hingga gerakan menangkap Flu Babi nampak serius dilakukan.

Sepulang kuliah saya pun masih penasaran mencari jawaban, duduk manis di depan laptop tercinta, pertanyaan pun saya lontarkan ke paman Google.

Hasil pencarian menceritakan bahwa situasi terakhir hingga 15 Sept 2009 terkait flu babi di Taiwan 15 orang telah meninggal, 252 orang di rawat di rumah sakit dan 162 orang mengalami pemulihan. Central Epidemic Command Center (CECC) selaku fihak yg berkepentingan dalam pencegahan penyebaran flu babi mengeluarkan kebijakan yang memerintahkan seluruh otoritas sekolah termasuk kampus untuk mematuhi standar management prosedur kesehatan sekolah/kampus dengan cara melakukan cek suhu badan setiap hari, penggunaan masker, disinfektansi dengan membasuh tangan dengan ethyl alcohol, serta selalu berkomnukasi dengan rumah sakit terdekat untuk hal-hal yang sifatnya urjen.

Semoga situasi ini cepat berlalu!! Bosen juga jidat kok dibuat mainan…

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Menagkap Flu Babi (H1N1) di Taiwan

Minggu ini adalah minggu pertama awal perkuliahan di seluruh kampus di Taiwan, termasuk di NCU (National Central University) di mana saya sedang studi.

Ada yang janggal ketika saya mulai beraktifitas di awal semester ini. Setiap pintu gedung-gedung perkuliahan, kantor, tempat olah raga, dan juga asrama ‘dijaga ketat’ oleh petugas. Mereka umumnya berjumlah 2 orang, mereka duduk dibelakang satu meja panjang di lengkapi rompi, masker dan sepucuk alat layaknya senjata api laras pendek yang siap menyergap orang-orang yang hendak memasuki gedung.

Ada apa gerangan pikir saya. Benar, mereka telah memasang pengumuman di meja mereka dan di ruang terbuka sudut-sudut kampus, namun sayang semuanya dalam tulisan Mandarin, tak faham saya. Masih buta huruf dan bisu di sini.

Tidak terlalu pikir panjang karena mesti ikut jam kuliah di pagi hari sayapun bergegas buru-buru coba memasuki gedung menerobos melewati barikade petugas-petugas ini. Baru selangkah maju mendekati, petugas ini tersiaga bergegas berdiri memanggil saya.

”STOP…STOP..berhenti sebentar, kami periksa dulu anda !!”

Alat yang sepintas mirip senjata api yang tergolek di meja kini tengah digengam petugas dan moncong-nya di arahkan ke jidat saya. Hanya sebentar, 1 – 2 detik saja, setelah itu setiker kecil berwarna seukuran koin pun ditempelkan di baju bagian dada saya.

”Sudah selesai, silahkan ..masuk ruang”.

Saya pun kemudian bertanya ”Apa ini?”..

”Ini bagian dari kegiatan mencegah penularan Flu Babi dan alat ini adalah pengukur suhu, jika suhu badan anda dari hasil pengukuran tercatat lebih dari 38 derajat, anda tidak diperkenankan masuk gedung, anda akan langsung dikirim ke Pusat Kesehatan Kampus tuk diperiksa lebih lanjut”,  jelas petugas.

”Pastikan stiker ini tak lepas dari baju anda untuk satu hari ini, kalau terlepas atau hilang anda akan diperiksa lagi jika pergi memasuki gedung, seperti tadi. Setiap hari akan ada pemeriksaan, besok kita akan menggunakan warna stiker lain dan seterusnya”, tambah petugas tersebut.

”Oya, suhu badan anda normal, hasil pengukuran tadi tercatat 36.5 derajat”.

Berfikir sejenak lebih dalam dan menjadi tanya, seheboh  apakah penyebaran Flu Babi di Taiwan hingga gerakan menangkap Flu Babi nampak serius dilakukan.

Sepulang kuliah saya pun masih penasaran mencari jawaban, duduk manis di depan laptop tercinta, pertanyaan pun saya lontarkan ke Paman Google.

Hasil pencarian menceritakan bahwa situasi terakhir hingga 15 Sept 2009 terkait flu babi di Taiwan 15 orang telah meninggal, 252 orang di rawat di rumah sakit dan 162 orang mengalami pemulihan. Central Epidemic Command Center (CECC) selaku fihak yg berkepentingan dalam pencegahan penyebaran flu babi mengeluarkan kebijakan yang memerintahkan seluruh otoritas sekolah termasuk kampus untuk mematuhi standar management prosedur kesehatan sekolah/kampus dengan cara melakukan cek suhu badan setiap hari, penggunaan masker, disinfektansi dengan membasuh tangan dengan ethyl alcohol, serta selalu berkomnukasi dengan rumah sakit terdekat untuk hal-hal yang sifatnya urjen.

Semoga situasi ini cepat berlalu!! Jidat kok buat mainan…

Udara

Udara.. sudah bersama kita sejak kita lahir.
Kita tidak akan bisa melepaskan kehadirannya begitu saja.

Di muka bumi kita bisa bertahan hidup walau kita pergi jauh ..sejauh mungkin ke segala arah horisontalnya.

Namun ke arah vertikal kita tak kan mampu tuk bertahan lebih dari 8 kilometer saja dari muka bumi.

Kita mampu hidup beberapa minggu tanpa makan,
Kita bisa hidup beberapa hari tanpa minum,

Namun kita tak kan pernah bisa hidup tanpa udara walau dalam hitungan menit!!

Layaknya ikan yang tergantung pada air,
Kita tergantung pada hamparan laut maha luas di sebut udara..

Kemanapun kita melangkah..udara menyertai.

(Di cuplik dari C. Donald Ahrens in ‘Meteorology Today’, Thomson 2003)

Generalisasi secara umum bisa disebut penyederhanaan. Dalam kaitannya dengan data spasial generalisasi bisa diartikan sebagai ’penghapusan’ kedetailan data dengan tujuan agar prosesing data dan penampilan data lebih cepat pada skala yang lebih kecil.

Katakan kita mempunyai peta batas pantai sekala 1:350.000 hasil digitasi namun kita ingin menampilkannya (dicetak kembali) ke sekala 1:1.000.000. Apa yang akan nampak pada hasil cetakannya? Tentunya garis-garis sungai ini akan nampak campur aduk (tidak karuan). Tidak enak di pandang mata.

Beda Skala Peta

Beda Skala Peta

Untuk mengatasinya perlu dilakukan proses generalisasi data, yakni menyederhanakan bentuk lekuk garis pantai (menguranginya). Seperti diketahui garis pantai dalam data GIS berupa garis yang dibentuk dari gabungan titik-titik yang saling berhubungan. Makin meliuk-liuk garis pantai berarti makin banyak titik-titik yang membentuk-nya. Sebuah garis (arc) di susun berdasar node dan vertex (gambar 1)

Lantas bagaimana caranya meng-generalisasi bentuk garis di atas biar kelihatan simpel? Untuk melakukannya algoritma Douglas-Peuker (1973) bisa digunakan..

Generalisasi garis bekerja

Generalisasi garis bekerja

Algoritma ini bekerja garis demi garis berdasarkan nilai toleransi yang telah ditentukan. Algoritma ini mulai bekerja dengan menghubungkan titik awal dengan titik akhir dari sebuah segmen garis (gambar 2; garis merah mengubungkan node A dan B). Garis peghubung ini bisa disebut garis ’trend’.

Setelah itu algoritma menghitung masing-masing jarak tegak lurus dari tiap vertex ke garis trend. Jarak-jarak tadi lalu dibandingkan satu dengan yang lainnya di cari yang paling jauh jaraknya (gambar 2, lihat garis imajiner biru). Jika jarak terbesar ini melebihi dari nilai toleleransi (nilai toleransi ditentukan sebelum algoritma dijalankan) maka vertex yang mempuyai jarak terbesar tadi (vertex C) dijadikan sebagai titik baru (titik antara), penghubung ke titik awal dan akhir garis (A, B). Garis trend baru pun selanjutnya terbentuk (gambar 3, garis A – C, C – B).

Setelah garis trend baru terbentuk algoritma melanjutkan proses serupa untuk mencari vertex-vertex berikutnya yang mempunyai jarak terjauh, untuk kemudian akan dijadikan sebagai titik penghunbung baru sehingga akan terbentuk garis-garis trend baru berikutnya. Proses ini berjalan terus menerus hingga tidak ada satupun vertex yang jarak tegak lurusnya ke garis trend melebihi nilai toleransi. Vertex-vertex antara yang jaraknya dibawah nilai toleransi dihapus. Yang tersisa akhirnya, garis trend-trend tadi yang merupakan garis hasil penyerderhanaan (gambar 5).

Selain algoritma ini ada algoritma lain yakni algoritma ‘Bend-simplify’. Untuk mencoba-nya silakan gunakan ArcGIS > ArcTool Box > Data Management> ’Simplify Line’.

(Sumber: Introduction to GIS 4th edition, pengarang: Khang-Tsung Chang, McGrawHill – 2008)

Older Posts »